Maandag 13 Mei 2013

tak ada azab kubur



Tak ada azab kubur
oleh Agus Mutofa
Buku ini terdiri dari 6 bab (Enam Fase Kehidupan, Berjalan Satu Arah, Alam Barzakh, Tak Ada Azab Kubur, dan Hari Berbangkit). Seluruh bagian naskah diuraikan melalui pendekatan ayat dan logika pemahaman yang diungkapkan dengan cara sederhana saja sehingga pembaca lebih mudah mengikuti alur berpikir penulisnya.Agus Mustofa sangat enggan memasukkan hadis sebagai bagian penjelasannya. Namun, satu hadis yang menegaskan pola berpikir beliau dijelaskan (hlm 133) :”Jika meninggal seorang keturunan Adam, maka terputuslah segala amalannya, kecuali 3 hal. Yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakan orang tuanya”.
Alasan penulis untuk tidak melakukan pembahasan tentang hadis yang berkenaan dengan siksa kubur karena dibatasi oleh kebutuhan ruang yang sangat besar (artinya kalau terlalu banyak dibahas, terlalu tebal sehingga nilai ekonomis bukunya berkurang atau ngkali harga bukunya terlalu mahal nantinya. Namun, secara umum beliau berpendapat hadis-hadis yang ada tidak dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan yang lebih shahih bercerita azab kubur secara normatif. Meskipun begitu, secara umum, kesimpulan yang didapat, siksa kubur dalam artian siksaan fisik tidak ada, namun “teror mental” terjadi seperti yang dijelaskan cukup panjang lebar (dan sedikit bertele-tele) mengenai siksaan kubur. Kesimpulan ini ternyata tidak berbeda dengan pencarian yang saya tulis beberapa hari yang lalu mengenai konsep siksa kubur. Jadi tak rugi pula saya ketika kemudian membaca buku ini, karena semakin melengkapi referensi berpikir yang sudah ada sebelumnya.
Pendekatan dari hadispun sebenarnya sama saja. Azab kubur itu ada . Hanya memang Agus Mustofa memegang kendali pemikiran dari ayat, sehingga memang kejernihan dan runtutan persoalan menjadi lebih jelas dan jernih. Apresiasi yang baik saya harus berikan juga untuk ketegasannya menegasi agar ummat tidak mengambil pemaknaan dari sinetron-sinetron konyol (hlm 123) yang berpotensi merusak akidah ummat. Hantu dan setan bergentayangan di layar kaca yang sangat menyesatkan. Membuat penonton menjadi kabur dari pemahaman akidah Islam yang seharusnya jernih. Beliau berpesan agar ummat Islam berhati-hati menanggapi azab kubur ini. Apalagi dengan beredarnya macam-macam cerita yang tidak bisa dipertanggungjawabakan, penuh takhayul yang tidak jelas dasarnya…..
Kalaupun ada yang saya anggap belum jernih, penjelasan beliau mengenai jiwa sebagai bada energial (bioplasma) (hlm 84-85) mengenai kerusakan otak dan jiwa. Otak bioplasma itu berada persis dibalik otak fisik kita. Di sinilah seluruh kendali jiwa kita berada. Kerusakan jiwa bakal menimbulkan kerusakan otak, sebaliknya kerusakan otak juga bakal menyebabkan kerusakan jiwa (hlm 85). Namun, saya bisa memahami bahwa jiwa adalah unsur yang mengambil peran dalam kegiatan fisik manusia. Ketika ada kerusakan fisik, maka jiwa bisa kehilangan kontrol pada fisiknya atau bahkan kehilangan “pengetahuan”-nya. Sayangnya beliau tidak menjelaskan posisi hati : suatu sebutan yang menurut saya cukup penting dalam pembahasan mengenai jiwa, akal, dan hati.
Pada buku Tak Ada Azab Kubur halaman 154-155, Agus Musthofa menulis, “Seluruh ayat-ayat yang terkait dengan barzakh, kubur, siksa, dan adzab, ternyata tidak satu pun yang menyinggung tentang adanya adzab kubur, alias siksa kubur. Sekali lagi kita menjadi merasa aneh, Kenapa peristiwa penting yang sudah di anggap sebagai kebenaran ini tidak muncul informasinya di Al-Qur’an. Lebih jauh, kalau kita berbicara tentang keimanan atau rukun iman, azab kubur juga tidak muncul menjadi salah satu rukun iman itu. Yang ditegaskan adalah Hari Kiamat dan Hari Akhir.” Aneh, kata Agus Mustofa. Kita pun demikian, bahkan merasa, apa yang dikatakannya itu lebih aneh. Kita pantas bertanya-tanya, benarkah tak ada satu pun ayat Al-Quran yang menyinggung adanya adzab kubur?Perlu dipahami, tidak semua permasalahan yang rujukan tegasnya tidak terdapat dalam Al-Quran, dengan serta merta menjadi ternafikan. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, betapa banyak permasalahan yang rujukan tegasnya tidak tercantum dalam Al-Quran tetapi penjelasannya secara lugas diinformasikan lewat hadits Nabi SAW, yang juga harus diyakini kebenarannya.Sebut saja misalnya QS Ibrahim: 27, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Pakar tafsir dan ahli hadits menyatakan, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan adzab kubur, lewat keterangan sejumlah hadits yang menjelaskan makna ayat itu. Di antaranya, “Dari Al-Barra’ bin ‘Azib, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim jika ditanya (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) di dalam kubur, ia akan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Maka itulah maksud firman Allah: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Al- Bukhari dan Muslim, juga Abu Daud (4752), An-Nasa’i (2056), At-Tirmidzi (3411), Ibnu Majah (4410), Imam Ahmad (18980), Ibnu Hibban (232), Al-Hakim (1403), dan masih banyak yang lain. Berdasarkan informasi hadits di atas, amat jelas bahwa ayat ini terkait dengan adzab kubur.
Masih ada beberapa ayat lain yang menyinggung perihal adzab kubur. Simak QS At-Takatsur: 1-3, yang diperkuat hadits diriwayatkan dari Sayyidina Ali KW, sebagai penjelas atas keterkaitannya dengan adzab kubur. Ini disampaikan secara lugas oleh pemuka ahli tafsir dan sejarah, Ath-Thabari, dalam kitab tafsirnya halaman 580. Begitu pula QS Thaha: 124, yang penjelasannya diberikan lewat informasi hadits dari Abu Hurairah RA sebagaimana disebutkan Tafsir Al-Lubab, karya Ibnu ‘Adil, halaman 114, serta oleh HR Ahmad (Al-Musnad No. 11642) dan Ibnu Hibban (Ash-Shahih Juz 7 hlm. 392).
Informasi yang dibawa hadits-hadits Rasulullah SAW itu merupakan argumentasi dari sisi asbabunnuzul ayat-ayat Al-Quran tersebut. Bahkan, terdapat bebe­rapa kitab yang secara khusus menghimpun dalil-dalil tentang adzab kubur, seperti kitab Itsbat ‘Adzab al-Qabr – memantapkan kebenaran adzab kubur, kar­ya Al-Baihaqi, dan Ahwal al-Qabr – kepanikan-kepanikan dalam kubur, karya Abul-Faraj Abdurrahman.Untuk melengkapi akurasi data-data di atas, penulis juga menyebutkan hadits-haidits yang berkenaan dengan adzab kubur yang bersumber dari Al-Kutub as-Sittah (enam kitab induk hadits), masing-masing satu hadits, meski sesungguhnya pada setiap kitab hadits yang enam itu terdapat puluhan sampai ratusan dalil yang terkait adzab kubur. Enam hadits berkualifikasi shahih yang disebutkan itu diambil dari Shahih Al-Bukhari juz 1 hlm. 463, Shahih Muslim juz 8 hlm. 160, Sunan Abi Daud juz 2 hlm. 652, Sunan An-Nasa’i juz 4 hlm. 376, Sunan At-Tirmidzi juz 6 hlm 423, dan Sunan Ibnu Majah juz 1 hlm. 449. Pertanyaannya, apakah sekian banyak informasi yang dibawa hadits-hadits shahih ini yang kemudian diamini segenap pakar tafsir dan ahli hadits sebagai dalil adzab kubur dapat dimentahkan beitu saja dengan pernyataan-pernyataan Agus Mustofa, yang kerap meragukan kebenaran hadits Nabi? Jelas tidak!.  Penjelasan padat hujjah yang lahir dari kombinasi antara kepakaran, keikhlasan, dan kehati-hatian yang luar biasa dari para ulama salaf penjaga benteng sunnah Nabi dari zaman ke zaman tentu tak sebanding dengan pendapat-pendapat spekulatif yang berdasarkan penafsiran atas terjemahan Al-Quran berbahasa Indone­sia semata.
Sampai di sini, jelaslah bagi kita, sejumlah ayat Al-Quran memang diturunkan dalam rangka menjelaskan kebenaran adanya adzab kubur. Jelas pula, kesimpulan “tidak ada adzab kubur” dari Agus Mustofa bukan karena ketiadaan infor­masi terkait adzab kubur dalam Al-Quran, melainkan lebih didasarkan pada eksplorasi yang dilakukan Agus Mustofa sendiri terhadap Al-Quran yang ternyata tak ia temukan. Selain itu, dugaannya bahwa adzab kubur bukan bagian dari rukun iman, jelas bertolak belakang dengan aqidah Islam. Dugaan tersebut pada dasamya berangkat dari ketidak-pahamannya terhadap pengertian rukun-rukun iman itu sendiri. Dugaan itu juga menyiratkan tendensinya untuk menggiring pemahaman khalayak agar tak terlalu ambil pusing dengan masalah percaya atau tidak percaya adzab kubur. Seperti yang diungkapkan Agus Mustofa, “Sekalipun misalnya keliru, tenang saja, toh itu bukan bagian dari rukun iman.” Kebenaran adzab kubur adalah bagi­an dari aqidah yang harus diyakini, sebab keyakinan ini didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits shahih. Sehingga, tidak percaya adzab kubur, sama artinya mengingkari Kitabullah (rukun iman yang ketiga) dan mengingkari hadits-hadits yang dibawa Rasulullah SAW. Dengan kata lain, tidak membenarkan dan meyakini dengan sebenarnya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT (rukun iman yang ke-empat).



Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking