Tak ada azab kubur
oleh Agus Mutofa
Buku ini terdiri dari 6 bab
(Enam Fase Kehidupan, Berjalan Satu Arah, Alam Barzakh, Tak Ada Azab Kubur, dan
Hari Berbangkit). Seluruh bagian naskah diuraikan melalui pendekatan ayat dan
logika pemahaman yang diungkapkan dengan cara sederhana saja sehingga pembaca
lebih mudah mengikuti alur berpikir penulisnya.Agus Mustofa sangat enggan
memasukkan hadis sebagai bagian penjelasannya. Namun, satu hadis yang
menegaskan pola berpikir beliau dijelaskan (hlm 133) :”Jika meninggal seorang
keturunan Adam, maka terputuslah segala amalannya, kecuali 3 hal. Yaitu :
sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang mendoakan orang
tuanya”.
Alasan penulis untuk tidak
melakukan pembahasan tentang hadis yang berkenaan dengan siksa kubur karena
dibatasi oleh kebutuhan ruang yang sangat besar (artinya kalau terlalu banyak
dibahas, terlalu tebal sehingga nilai ekonomis bukunya berkurang atau ngkali
harga bukunya terlalu mahal nantinya. Namun, secara umum beliau berpendapat
hadis-hadis yang ada tidak dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan yang lebih
shahih bercerita azab kubur secara normatif. Meskipun begitu, secara umum,
kesimpulan yang didapat, siksa kubur dalam artian siksaan fisik tidak ada,
namun “teror mental” terjadi seperti yang dijelaskan cukup panjang lebar (dan
sedikit bertele-tele) mengenai siksaan kubur. Kesimpulan ini ternyata tidak
berbeda dengan pencarian yang saya tulis beberapa hari yang lalu mengenai konsep siksa kubur. Jadi
tak rugi pula saya ketika kemudian membaca buku ini, karena semakin melengkapi
referensi berpikir yang sudah ada sebelumnya.
Pendekatan dari hadispun
sebenarnya sama saja. Azab kubur itu ada . Hanya
memang Agus Mustofa memegang kendali pemikiran dari ayat, sehingga memang
kejernihan dan runtutan persoalan menjadi lebih jelas dan jernih. Apresiasi
yang baik saya harus berikan juga untuk ketegasannya menegasi agar ummat tidak
mengambil pemaknaan dari sinetron-sinetron konyol (hlm 123) yang berpotensi
merusak akidah ummat. Hantu dan setan bergentayangan di layar kaca yang sangat
menyesatkan. Membuat penonton menjadi kabur dari pemahaman akidah Islam yang
seharusnya jernih. Beliau berpesan agar ummat Islam berhati-hati
menanggapi azab kubur ini. Apalagi dengan beredarnya macam-macam cerita yang
tidak bisa dipertanggungjawabakan, penuh takhayul yang tidak jelas dasarnya…..
Kalaupun ada yang saya anggap
belum jernih, penjelasan beliau mengenai jiwa sebagai bada energial (bioplasma)
(hlm 84-85) mengenai kerusakan otak dan jiwa. Otak bioplasma
itu berada persis dibalik otak fisik kita. Di sinilah seluruh kendali jiwa kita
berada. Kerusakan jiwa bakal menimbulkan kerusakan otak, sebaliknya kerusakan
otak juga bakal menyebabkan kerusakan jiwa (hlm 85). Namun, saya bisa memahami
bahwa jiwa adalah unsur yang mengambil peran dalam kegiatan fisik manusia.
Ketika ada kerusakan fisik, maka jiwa bisa kehilangan kontrol pada fisiknya
atau bahkan kehilangan “pengetahuan”-nya. Sayangnya beliau tidak menjelaskan
posisi hati : suatu sebutan yang menurut saya cukup penting dalam pembahasan
mengenai jiwa, akal, dan hati.
Pada buku Tak Ada Azab
Kubur halaman 154-155, Agus Musthofa menulis, “Seluruh ayat-ayat yang terkait
dengan barzakh, kubur, siksa, dan adzab, ternyata tidak satu pun yang menyinggung
tentang adanya adzab kubur, alias siksa kubur. Sekali lagi kita menjadi merasa
aneh, Kenapa peristiwa penting yang sudah di anggap sebagai kebenaran ini tidak
muncul informasinya di Al-Qur’an. Lebih jauh, kalau kita berbicara tentang
keimanan atau rukun iman, azab kubur juga tidak muncul menjadi salah satu rukun
iman itu. Yang ditegaskan adalah Hari Kiamat dan Hari Akhir.” Aneh, kata Agus
Mustofa. Kita pun demikian, bahkan merasa, apa yang dikatakannya itu lebih
aneh. Kita pantas bertanya-tanya, benarkah tak ada satu pun ayat Al-Quran yang
menyinggung adanya adzab kubur?Perlu dipahami, tidak semua permasalahan yang
rujukan tegasnya tidak terdapat dalam Al-Quran, dengan serta merta menjadi
ternafikan. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, betapa banyak permasalahan
yang rujukan tegasnya tidak tercantum dalam Al-Quran tetapi penjelasannya
secara lugas diinformasikan lewat hadits Nabi SAW, yang juga harus diyakini
kebenarannya.Sebut saja misalnya QS Ibrahim: 27, “Allah meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia
dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat
apa yang Dia kehendaki.”
Pakar tafsir dan ahli
hadits menyatakan, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan adzab kubur, lewat
keterangan sejumlah hadits yang menjelaskan makna ayat itu. Di antaranya, “Dari
Al-Barra’ bin ‘Azib, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim jika ditanya
(oleh Malaikat Munkar dan Nakir) di dalam kubur, ia akan bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Maka itulah maksud
firman Allah: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan
yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” Hadits tersebut
diriwayatkan oleh Al- Bukhari dan Muslim, juga Abu Daud (4752), An-Nasa’i
(2056), At-Tirmidzi (3411), Ibnu Majah (4410), Imam Ahmad (18980), Ibnu Hibban
(232), Al-Hakim (1403), dan masih banyak yang lain. Berdasarkan informasi
hadits di atas, amat jelas bahwa ayat ini terkait dengan adzab kubur.
Masih ada beberapa ayat
lain yang menyinggung perihal adzab kubur. Simak QS At-Takatsur: 1-3, yang
diperkuat hadits diriwayatkan dari Sayyidina Ali KW, sebagai penjelas atas
keterkaitannya dengan adzab kubur. Ini disampaikan secara lugas oleh pemuka
ahli tafsir dan sejarah, Ath-Thabari, dalam kitab tafsirnya halaman 580. Begitu
pula QS Thaha: 124, yang penjelasannya diberikan lewat informasi hadits dari
Abu Hurairah RA sebagaimana disebutkan Tafsir Al-Lubab, karya Ibnu ‘Adil,
halaman 114, serta oleh HR Ahmad (Al-Musnad No. 11642) dan Ibnu Hibban
(Ash-Shahih Juz 7 hlm. 392).
Informasi yang dibawa
hadits-hadits Rasulullah SAW itu merupakan argumentasi dari sisi asbabunnuzul
ayat-ayat Al-Quran tersebut. Bahkan, terdapat beberapa kitab yang secara
khusus menghimpun dalil-dalil tentang adzab kubur, seperti kitab Itsbat ‘Adzab
al-Qabr – memantapkan kebenaran adzab kubur, karya Al-Baihaqi, dan Ahwal
al-Qabr – kepanikan-kepanikan dalam kubur, karya Abul-Faraj Abdurrahman.Untuk
melengkapi akurasi data-data di atas, penulis juga menyebutkan hadits-haidits
yang berkenaan dengan adzab kubur yang bersumber dari Al-Kutub as-Sittah (enam
kitab induk hadits), masing-masing satu hadits, meski sesungguhnya pada setiap
kitab hadits yang enam itu terdapat puluhan sampai ratusan dalil yang terkait
adzab kubur. Enam hadits berkualifikasi shahih yang disebutkan itu diambil dari
Shahih Al-Bukhari juz 1 hlm. 463, Shahih Muslim juz 8 hlm. 160, Sunan Abi Daud
juz 2 hlm. 652, Sunan An-Nasa’i juz 4 hlm. 376, Sunan At-Tirmidzi juz 6 hlm 423,
dan Sunan Ibnu Majah juz 1 hlm. 449. Pertanyaannya, apakah sekian banyak
informasi yang dibawa hadits-hadits shahih ini yang kemudian diamini segenap
pakar tafsir dan ahli hadits sebagai dalil adzab kubur dapat dimentahkan beitu
saja dengan pernyataan-pernyataan Agus Mustofa, yang kerap meragukan kebenaran
hadits Nabi? Jelas tidak!. Penjelasan padat hujjah yang lahir dari
kombinasi antara kepakaran, keikhlasan, dan kehati-hatian yang luar biasa dari
para ulama salaf penjaga benteng sunnah Nabi dari zaman ke zaman tentu tak
sebanding dengan pendapat-pendapat spekulatif yang berdasarkan penafsiran atas
terjemahan Al-Quran berbahasa Indonesia semata.
Sampai di sini,
jelaslah bagi kita, sejumlah ayat Al-Quran memang diturunkan dalam rangka
menjelaskan kebenaran adanya adzab kubur. Jelas pula, kesimpulan “tidak ada
adzab kubur” dari Agus Mustofa bukan karena ketiadaan informasi terkait adzab
kubur dalam Al-Quran, melainkan lebih didasarkan pada eksplorasi yang dilakukan
Agus Mustofa sendiri terhadap Al-Quran yang ternyata tak ia temukan. Selain
itu, dugaannya bahwa adzab kubur bukan bagian dari rukun iman, jelas bertolak
belakang dengan aqidah Islam. Dugaan tersebut pada dasamya berangkat dari
ketidak-pahamannya terhadap pengertian rukun-rukun iman itu sendiri. Dugaan itu
juga menyiratkan tendensinya untuk menggiring pemahaman khalayak agar tak
terlalu ambil pusing dengan masalah percaya atau tidak percaya adzab kubur.
Seperti yang diungkapkan Agus Mustofa, “Sekalipun misalnya keliru, tenang saja,
toh itu bukan bagian dari rukun iman.” Kebenaran adzab kubur adalah bagian
dari aqidah yang harus diyakini, sebab keyakinan ini didasarkan pada ayat-ayat
Al-Quran dan hadits-hadits shahih. Sehingga, tidak percaya adzab kubur, sama
artinya mengingkari Kitabullah (rukun iman yang ketiga) dan mengingkari
hadits-hadits yang dibawa Rasulullah SAW. Dengan kata lain, tidak membenarkan
dan meyakini dengan sebenarnya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT
(rukun iman yang ke-empat).
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking